Itulah kira-kira yang terjadi. Setelah pemerintah melakukan upaya pengalihan minyak kepada gas ini, minyak pun seakan menjadi barang langka, masyarakat (khususnya ibu-ibu) tahan berjam-berjam mengantri untuk mendapatannya. Sementara gas yang diharapkan mampu mengganti peran minyak yang selama ini jadi idolapun setali tiga uang, dibeberapa daerah selain harganya melambung tinggi, elpiji juga sulit di dapatkan di agen maupun di pengecer. Tak pelak situasi seperti itu membuat ibu-ibu rumah tangga tambah kelimpungan.
Mudah-mudahan segera ada jalan keluar, jangan sampai karena minyak tak terkejar sementara gas melambung tinggi lantas masyarakat kembali beralih ke kayu bakar (weleh)….
Buku selain yang kita kenal sebagai sarana penyampaian ilmu juga sebagai medium sosialisasi untuk membangun prestasi. Sebagian kalangan menjadikannya sebagai tempat menyampaikan gagasan dan pikiran, dan inilah yang diperkirakan bakal terjadi menjelang Pemilu, perang buku antar tokoh yang akan tampil. Saling mengkritik lawan-lawan politik.
menghangat. Di Palembang sendiri isu ini sudah merebak kemana-mana. Seperti biasa, pasti ada dua kubu. Satu kubu yang percaya satu laginya nggak. Warga masyarakat yang gak percaya sih santai-santai aja menanggapi berita ini, dengan enteng mereka bilang “Apa harus beriman tebal dulu untuk punya HP?”, “Ah, inikan isu menjelang PILKADA”. Sementara yang percaya sudah bisa ditebak, mereka pada nggak berani bawa HP!.
Ini bukan sembarang nabung, karena yang ditabung bukanlah uang sisa belanja atau uang yang telah disisihkan setelah dibagi-bagi dengan keperluan lainnya. Tapi yang ditabung ini adalah semua uang penghasilan yang didapat selama sebulan! Lho? buat apa?
Dulu waktu kecil, ortu selalu mengajarkan kita untuk membiasakan diri membaca ‘Bismillah’ ketika akan memulai pekerjaan apapun. Saat masih kecil itu kita kadang nggak tahu kenapa harus membaca bacaan itu. Hingga beranjak dewasa dari ikut ngaji dan nyomot ilmu dari sana sini dan buku ini itu, mulailah kelihatan hasilnya, terbukti kini sudah berhasil menemukan jawaban kenapa kita harus membaca ‘Bismillah’.
Lebih tepatnya kembali ke WP. Dulu saya pernah punya beberapa Blog disini, entah itu sekedar coba-coba atau iseng saja mencoba berbagai template, jenuh ngotak-atik akhirnya saya tinggalkan. Begitu juga dengan yang di Blogspot. Akhirnya dari hasil seleksi alam, jadilah tinggal blog saya yang Multiply (MP) saja sekarang. Rasa kangen lah yang membuat saya kembali Blogging kemari.



Komentar Terakhir